Hearsay Rule (Testimonium Auditu Excluditur)
AHP|ADVOKAT SPESIALISASI DIBIDANG PERUSAHAAN, PROPERTY, TRANSAKSI PERBANKAN, KETENAGAKERJAAN, UTANG PIUTANG, PIDANA Jl. Mampang Prapatan Raya Jakarta Selatan 12790. HP/ WA:081905057198.Email: a.f.hasanlawoffice@gmail.com Blog Merupakan Pandangan / Perspektif/ Analisis Dari Sudut Hukum dan Bukan Pendapat Hukum Serta Tidak Untuk Komersiil. Adanya Kesamaan Nama, Peristiwa Dalam Ulasan Blog Bukan Kesengajaan Dan Semata-Mata Merupakan Analisis Serta Pandangan Hukum Tidak Untuk Komersiil.
Tuesday, 4 February 2025
Hearsay Rule (Testimonium Auditu Excluditur)
Penerapan Alat Bukti Asli Pembuktian
Saturday, 1 February 2025
Aturan Hukum Mengenai Hibah Tanah
Aturan Hukum mengenai Hibah Atas Tanah : Bagian 1
Dasar Hukum
- Pasal 26 UU No 5 Tahun 1960
- Pasal 37 Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997
- Pasal 112 Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997
- Pasal 1666-1693 KUH Perdata
Dengan merujuk kepada ketentuan dalam Pasal 26 UU No 5 Tahun 1960, Hibah merupakan salah satu alas hak untuk memindahkan kepemilikan hak milik. Lebih lanjut pengaturannya sebagaimana dimuat dalam Pasal 37 Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 jo pasal Pasal 112 Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997.
Pasal 37 Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997: Peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun melalui jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan dan perbuatan hukum pemindahan hak lainnya, kecuali pemindahan hak melalui lelang hanya dapat didaftarkan jika dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT yang berwenang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 112 Peraturan Menteri
Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 sbb:
Dalam hal pewarisan disertai
dengan hibah wasiat, maka:
a. jika hak atas tanah atau
Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun yang dihibahkan sudah tertentu, maka
pendaftaran peralihan haknya dilakukan atas permohonan penerima hibah dengan
melampirkan:
1) sertipikat hak atas tanah
atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun atas nama pewaris, atau apabila hak atas
tanah yang dihibahkan belum terdaftar, bukti pemilikan tanah atas nama pemberi
hibah sebagaimana dimaksud Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997;
2) surat kematian pemberi
hibah wasiat dari Kepala Desa/Lurah tempat tinggal pemberi hibah wasiat
tersebut waktu meninggal dunia, rumah sakit, petugas kesehatan, atau intansi
lain yang berwenang;
3) a) Putusan Pengadilan atau
Penetapan Hakim/Ketua Pengadilan mengenai pembagian harta waris yang memuat
penunjukan hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun yang
bersangkutan sebagai telah dihibah wasiatkan kepada pemohon, atau
b) Akta PPAT mengenai hibah
yang dilakukan oleh Pelaksana Wasiat atas nama pemberi hibah wasiat sebagai
pelaksanaan dari wasiat yang dikuasakan pelaksanaannya kepada Pelaksana Wasiat
tersebut,
atau
c) akta pembagian waris
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111 ayat (2) yang memuat penunjukan hak atas
tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun yang bersangkutan sebagai telah
dihibah wasiatkan kepada pemohon,
4) surat kuasa tertulis dari
penerima hibah apabila yang mengajukan permohonan pendaftaran peralihan hak
bukan penerima hibah;
5) bukti identitas penerima
hibah;
6) bukti pelunasan pembayaran
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor
21 Tahun 1997, dalam hal bea tersebut terutang;
7) bukti pelunasan pembayaran PPh sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 dan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1996, dalam hal pajak tersebut terutang.
b. jika hak atas tanah atau Hak Milik Atas
Satuan Rumah Susun yang dihibahkan belum tertentu, maka pendaftaran peralihan
haknya dilakukan kepada para ahli waris dan penerima hibah wasiat sebagai harta
bersama
Selanjutnya dengan merujuk kepada
ketentuan dalam KUHP Perdata pasal 1666-1693 KUH Perdata seperangkat aturan
mengenai Hibah dan tatacaranya juga diatur secara rinci.Beraap pasal yang menjadi
sorotan bersama.
Pasal 1666 KUH Perdata:
Penghibahan adalah suatu
persetujuan dengan mana seorang penghibah menyerahkan suatu barang secara
cuma-cuma, tanpa dapat menariknya kembali, untuk kepentingan seseorang yang
menerima penyerahan barang itu. Undang-undang hanya mengakui penghibahan- penghibahan
antara orang-orang yang masih hidup
Penjelasan:
Pasal 1666 KUH Perdata menjelaskan tentang penghibahan
sebagai berikut:
1.Definisi Penghibahan: Penghibahan merupakn perjanjian
di mana seorang penghibah menyerahkan barang kepada penerima hibah secara
cuma-cuma, tanpa mengharapkan imbalan atau pembayaran.
2. Tanpa Dapat Menarik Kembali: bahwa penghibah tidak
dapat menarik kembali barang yang telah dihibahkan setelah penyerahan
dilakukan.
3. Kepentingan Penerima: Penghibahan dilakukan untuk
kepentingan penerima hibah
4. Penghibahan Antara Orang Hidup: Pasal ini juga menegaskan bahwa undang-undang hanya mengakui penghibahan yang dilakukan antara orang-orang yang masih hidup.
Secara keseluruhan, Pasal 1666 KUH Perdata memberikan
kerangka hukum mengenai definisi penghibahan, menekankan sifat sukarela,
ketidakmampuan untuk menarik kembali, dan batasan bahwa penghibahan hanya
berlaku antara orang yang masih hidup.
Salam
Tim AHP Advokat
Monday, 21 October 2024
Hubungan antara Pengendali Data Pribadi dan Prosesor Data Pribadi
Hubungan antara Pengendali Data Pribadi dan Prosesor Data Pribadi
Dalam perkembangan era digital yang pesat saat ini, pengelolaan data pribadi menjadi semakin penting. Dua pihak yang memiliki peran signifikan dalam ekosistem ini adalah Pengendali Data Pribadi dan Prosesor Data Pribadi. Keduanya memiliki tanggung jawab dan fungsi yang berbeda, namun saling terkait.
Pengendali Data Pribadi
Pengendali Data Pribadi merupakan individu, organisasi, dan atau badan publik yang memiliki wewenang, kekuasaan untuk menentukan apa dan bagaimana serta tujuan dan cara pemrosesan data pribadi. Mereka bertanggung jawab atas pengumpulan, penyimpanan, dan penggunaan data tersebut. Contohnya termasuk perusahaan, lembaga pemerintah, dan organisasi non-profit. Tanggung jawab utama Pengendali Data mencakup:
-Menentukan maksud dan tujuan penggunaan data pribadi.
-Memastikan kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data.
- Melindungi hak-hak subjek data.
Prosesor Data Pribadi
Sementara itu, Prosesor Data Pribadi merupakan pihak yang melakukan pemrosesan data pribadi atas nama Pengendali Data. Mereka tidak memiliki kewenangan dan hak menentukan tujuan pemrosesan dan hanya bertindak sesuai instruksi/ arahan yang diberikan. Contoh prosesor data termasuk penyedia layanan cloud, perusahaan IT, atau kontraktor yang mengelola data. Tanggung jawab Prosesor Data meliputi:
-Memproses data sesuai dengan arahan Pengendali Data.
-Menjaga keamanan dan kerahasiaan data.
-Mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam perjanjian dengan Pengendali Data.
Kesimpulan
Pengendali Data Pribadi dan Prosesor Data Pribadi memiliki peran yang signifikan dalam pengelolaan data pribadi. Sementara Pengendali Data bertanggung jawab atas tujuan dan kebijakan penggunaan data, Prosesor Data memastikan bahwa pemrosesan dilakukan secara aman dan sesuai arahan. Sinergi yang baik antara keduanya sangat penting guna melindungi data pribadi dan memenuhi regulasi yang berlaku. Melalui pemahaman yang jelas mengenai peran masing-masing, organisasi dapat lebih efektif dalam mengelola data pribadi dan melindungi hak-hak individu.
Salam
AHP Advokat
Wednesday, 16 October 2024
Transaksi Gadai dan Aspek Hukum Penggelapan: Memahami Pasal 372 KUHP
Transaksi Gadai dan Aspek Hukum Penggelapan: Memahami Pasal 372 KUHP
Transaksi gadai merupakan praktik transaksi keuangan yang sudah sangat umum dimasyarakat dalam memperoleh pinjaman, di mana peminjam menyerahkan barang berharga sebagai jaminan. Namun, situasi dapat menjadi komplek ketika barang yang digadaikan bukan milik peminjam. Dalam konteks ini, Pasal 372 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengatur tentang penggelapan, yang dapat melibatkan tindakan melawan hukum ini.
Contoh Kasus
Misalkan seseorang menggadaikan kendaraan milik temannya tanpa izin. Dalam hal ini, tindakan menggadai kendaraan tersebut melawan hak hukum orang lain dan melanggar kewajiban hukumnya sendiri, karena peminjam tidak memiliki wewenang atas barang tersebut. Jika transaksi ini diketahui oleh pemiliknya dan ia tidak menyetujui, pemilik berhak mengambil langkah hukum.
Kesimpulan
Transaksi gadai bisa menjadi solusi finansial, tetapi perlu dilakukan dengan penuh kehati-hatian untuk menghindari permasalahan hukum. Pasal 372 KUHP memberikan perlindungan bagi pemilik barang dari tindakan penggelapan, dan memahami aspek hukum ini penting untuk melindungi hak-hak individu. Pemilik yang merasa dirugikan karena barangnya digadaikan secara tanpa hak sebaiknya mengambil langkah hukum yang tepat untuk mendapatkan kembali haknya.
salam
AHP Advokat
Tuesday, 8 October 2024
Jerat Hukum Masuk Rumah Orang Tanpa Izin
Jerat Hukum Masuk Rumah Orang Tanpa Izin
Ilustrasi
Seorang wanita berinisial CD merasa cemburu setelah mengetahui bahwa suaminya, AADC, sering berkunjung ke rumah teman wanita mereka berinisal AE. Dalam keadaan marah, CD memutuskan untuk pergi ke rumah AE tanpa izin.
CD memanjat pagar dan membuka pintu rumah AE dengan paksa,
meskipun AE sudah meminta CD untuk pergi. CD mulai berteriak dan menuduh AE
berpacaran dengan suaminya, sementara AE berusaha menenangkan CD dan meminta
agar ia pergi. CD tetap berada di rumah AE dan tidak mau meninggalkan tempat
itu hingga tetangga yang mendengar keributan melaporkan kejadian tersebut ke
polisi.
Polisi kemudian datang dan menangkap CD dan terancam atas
tuduhan melanggar Pasal 167 ayat (1) KUHP, karena telah memaksa masuk secara
paksa ke rumah orang lain tanpa izin dan tidak mematuhi permintaan untuk pergi.
Salam
AHP Advokat
Monday, 7 October 2024
Pengalihan Obyek Jaminan Fidusia Tanpa Persetujuan Kreditor
Kasus: Pengalihan Obyek Jaminan Fidusia Tanpa Persetujuan Kreditor
Sebuah perusahaan, PT WXYZ, telah mengajukan pinjaman dengan jaminan fidusia untuk dari bank ABCDEF. Sebagai jaminan fidusia yang diberikan, perusahaan WXYZ tersebut menyerahkan sejumlah mesin produksi yang bernilai tinggi dan masih produktif. Sesuai perjanjian fidusia, PT WXYZ tidak diperbolehkan untuk mengalihkan, menggadaikan, atau menyewakan mesin tersebut tanpa persetujuan tertulis dari bank sebagai penerima fidusia.
Seiring berjalannya waktu, manajer operasional PT WXYZ, sebut saja Rinaa, tanpa sepengetahuan dan persetujuan pihak bank, memutuskan untuk menyewakan salah satu mesin kepada perusahaan lain untuk mendapatkan cashflow tambahan. Rinaa berpikir bahwa langkah ini tidak akan ketahuan dan akan membantu kondisi keuangan perusahaan dalam jangka pendek.
Konsekuensi Hukum:
Ketika bank mengetahui bahwa mesin yang dijaminkan telah disewakan tanpa persetujuan bank, mereka merasa dirugikan dan melaporkan PT WXYZ ke pihak berwajib. Berdasarkan Pasal 36 UU Jaminan Fidusia, PT WXYZ dapat dikenakan pidana karena telah menyewakan objek jaminan fidusia tanpa persetujuan tertulis dari penerima fidusia.
Salam
AHP Advokat